Paser – Pengelolaan dana Training Center (TC) atlet sepak bola Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kabupaten Paser tengah menjadi sorotan serius. Sejumlah pihak internal tim, pelatih, hingga klub sepak bola lokal menuding adanya indikasi penggelapan dana, penyalahgunaan wewenang, serta dugaan praktik tidak transparan dalam tubuh PSSI Kabupaten Paser dan instansi terkait.
Nama-nama penting, mulai dari pengurus PSSI, pejabat Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), hingga anggota DPRD setempat, disebut-sebut mengetahui atau terlibat dalam polemik tersebut.
Kronologi Awal: Dana TC Diduga Dicairkan, Atlet Tidak Menerima
Peristiwa ini bermula pada persiapan POPDA Kabupaten Paser yang digelar pada 20 November 2025. Tim sepak bola POPDA Paser telah dibentuk dengan susunan pelatih dan manajemen, di antaranya Head Coach Rendy Rachman, Asisten Pelatih Darmansyah, serta manajer tim yang dikenal dengan nama panggilan Cenning.
Sementara itu, Dedi Darmawan berperan sebagai pihak yang mengurus koordinasi pencairan dana TC atlet ke Disporapar Paser. Dana tersebut seharusnya digunakan untuk kebutuhan pemusatan latihan, konsumsi, transportasi, perlengkapan atlet, serta operasional tim.
Namun, berdasarkan keterangan pelatih dan manajemen tim, dana TC yang dicairkan tidak pernah diterima oleh atlet maupun manajemen tim. Selama kegiatan berlangsung, kebutuhan tim justru disebut dibiayai menggunakan dana pribadi manajer tim.
Fakta Pencairan Terungkap Setelah Konfirmasi ke Disporapar
Kecurigaan muncul ketika pelatih dan Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Paser melakukan konfirmasi langsung ke Disporapar Paser. Dari keterangan bendahara Disporapar, Hatta, diketahui bahwa dana TC atlet POPDA Paser telah dicairkan dan ditransfer kepada Dedi Darmawan melalui rekening pribadi pejabat bidang olahraga.
Informasi ini mengejutkan pihak tim, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan bahwa dana telah cair. Atlet dan pelatih mengaku tidak mengetahui adanya pencairan dana tersebut.
Dalam pertemuan di kantor Disporapar Paser, Dedi Darmawan disebut menyatakan bahwa dana TC merupakan urusannya dengan manajer tim. Namun, manajer tim Cenning membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa tidak pernah menerima dana TC dari Dedi Darmawan.
Transfer Rp11 Juta Menjelang Kongres PSSI
Polemi k semakin memanas menjelang Kongres PSSI Kabupaten Paser pada 14 Desember 2025. Dua hingga tiga hari sebelum kongres digelar, Dedi Darmawan mentransfer dana sebesar Rp11.000.000 ke rekening manajer tim.
Transfer ini diklaim sebagai penggantian atau dana talangan atas pengeluaran pribadi Dedi Darmawan selama pengurusan tim POPDA. Namun, klaim tersebut kembali dibantah oleh manajer tim, pelatih, dan para pemain, yang menyatakan bahwa seluruh pembiayaan sebelumnya berasal dari dana pribadi manajer.
Hingga kini, rincian penggunaan dana talangan tersebut juga disebut tidak pernah disampaikan secara transparan kepada tim maupun atlet.
Dedi Darmawan Diangkat Jadi Sekjen PSSI Paser, Penolakan Muncul
Ironisnya, dalam Kongres PSSI Kabupaten Paser tersebut, Dedi Darmawan justru diangkat sebagai Sekretaris Jenderal PSSI Kabupaten Paser. Selain itu, Rendy Rachman ditunjuk sebagai manajemen pelatih di tubuh PSSI Paser.
Keputusan ini memicu gelombang penolakan dari klub-klub dan pelatih lokal. Pada 1 Januari 2026, mereka melayangkan surat mosi tidak percaya kepada PSSI Paser. Dalam mosi tersebut, mereka menolak kepemimpinan Dedi Darmawan dan Rendy Rachman karena dianggap memiliki rekam jejak bermasalah dan tidak mewakili pelatih serta klub lokal Paser.
Nama-Nama yang Disebut Terindikasi Terlibat
Dalam polemik ini, sejumlah nama disebut-sebut terindikasi mengetahui atau terlibat dalam pengelolaan dana TC POPDA Paser, antara lain:
Dedi Darmawan – Sekretaris Jenderal PSSI Kabupaten Paser
Rendy Rachman – Manajemen pelatih PSSI Paser
Kabid Olahraga Disporapar Paser
Wahyu – pihak yang disebut terkait alur administrasi dana
Hatta – Bendahara Disporapar Paser
Abdurahman KA – Ketua PSSI Kabupaten Paser sekaligus anggota DPRD Paser Fraksi PKB, yang disebut mempertahankan posisi Dedi Darmawan dan Rendy Rachman di PSSI Paser
Tudingan Judi Bola dan Persoalan Administrasi Kependudukan
Selain dugaan pengelolaan dana bermasalah, muncul pula tudingan serius terhadap Dedi Darmawan dan Rendy Rachman terkait indikasi keterlibatan judi bola online. Informasi ini berasal dari sumber internal komunitas sepak bola Paser yang mengklaim memiliki bukti aktivitas judi daring.
Tak hanya itu, Rendy Rachman juga dituding menggunakan alamat domisili yang tidak sesuai dalam dokumen kependudukan untuk kepentingan administrasi di Paser, meski diketahui berdomisili di luar daerah. Tuduhan ini turut menjadi alasan penolakan klub dan pelatih lokal terhadap kepengurusan PSSI Paser saat ini.
Pertanyaan Publik: Apakah Disporapar dan PSSI Terlibat?
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat dan insan olahraga Paser:
Apakah Disporapar Paser dan PSSI Kabupaten Paser mengetahui atau terlibat dalam pengelolaan dana TC POPDA yang diduga bermasalah?
Publik juga mempertanyakan mengapa dana atlet bisa dicairkan ke rekening pribadi pihak tertentu tanpa mekanisme transparansi yang jelas, serta mengapa pengurus yang terseret polemik justru diangkat ke posisi strategis dalam organisasi sepak bola daerah.
Desakan Audit dan Investigasi Aparat Penegak Hukum
Sejumlah pihak mendesak agar aparat penegak hukum, inspektorat daerah, dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit menyeluruh terhadap dana TC POPDA Paser. Audit dinilai penting untuk memastikan tidak adanya kerugian negara dan melindungi hak atlet.
Klub-klub dan pelatih juga meminta PSSI pusat turun tangan untuk mengevaluasi kepengurusan PSSI Kabupaten Paser, guna menjaga integritas pembinaan sepak bola di daerah.
Klarifikasi Masih Ditunggu
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Disporapar Paser, PSSI Kabupaten Paser, serta nama-nama yang disebut dalam laporan ini belum memberikan klarifikasi resmi. Media ini masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapatkan keterangan dan hak jawab.







